"Apa ini mimpi?" pikir gadis itu sambil merasakan dingin menggigit kulitnya. Tapi sensasi itu terlalu nyata. Dia mengedarkan pandangannya, lalu tubuhnya membeku. Sesuatu terasa aneh. Tubuhnya... telanjang.

Matanya langsung membesar, dan ia segera memeriksa dirinya sendiri. Hatinya mencelos saat sadar tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya.

"AAAAAH!!!" Jeritannya memecah keheningan. Dia melonjak berdiri, kedua tangannya buru-buru menutupi tubuhnya sebisanya. Matanya kemudian menangkap sosok seorang pria tak jauh darinya—juga tanpa busana.

"Apa yang kau lakukan?!" Gadis itu berteriak histeris, matanya melebar penuh amarah dan ketakutan. Tanpa berpikir panjang, ia meraih ranting di dekatnya, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti senjata. "Menjauh dariku! MENJAUH!"

Pria itu, langsung mengangkat kedua tangannya dengan panik, mundur dua langkah. "Tunggu! Tunggu! Aku bisa jelasin! Ini nggak seperti yang kamu pikirkan!"

Tapi gadis itu tidak mendengarkan. Dengan wajah penuh kemarahan, dia melempar ranting ke arah pria itu. "Kamu nggak punya malu! Apa yang kamu lakukan?!" teriaknya dengan suara melengking.

Ranting itu melayang nyaris mengenai kepala pria itu. Ia cepat menunduk, lalu berdiri lagi dengan ekspresi putus asa. "Aduh! Dengar dulu!"

Namun gadis itu terus mencari benda-benda lain—batu kecil, pasir, bahkan daun—semuanya dilemparkan ke arah pria itu dengan kekuatan penuh.

"Aduh! Itu sakit!" teriak pria itu sambil berusaha menghindari hujan benda-benda tersebut.

"Kamu MESUM!" seru gadis itu, nadanya semakin marah. "Beraninya kamu..."

"STOP!" Pria itu berteriak, suaranya keras tapi penuh kesungguhan. "Aku nggak mesum, oke?! Sumpah, aku bisa jelasin!"

Gadis itu berhenti sejenak, napasnya masih terengah-engah, tapi amarahnya belum surut. Pria itu menelan ludah, tahu ia harus berkata sesuatu yang meyakinkan. "Lihat itu!" katanya sambil menunjuk ke dahan pohon terdekat. "Itu pakaian kita! Aku jemur karena basah kuyup. Kamu sudah hampir beku waktu aku nemuin kamu di sini!"

Gadis itu berhenti sejenak, napasnya terengah-engah, pandangannya beralih ke dahan pohon di dekat mereka. Memang ada pakaian yang tergantung di sana, terlihat jelas sedang dijemur.

Dia menatap pria itu dengan tatapan masih penuh curiga. "Jemur? Kamu serius?"

“Iya, jemur,” kata pria itu sambil menunjuk ke arah pakaian itu. "Waktu aku nemuin kamu, kamu udah hampir beku. Kalau baju basah dipakai, itu cuma bikin kamu tambah sakit. Jadi, ya... ini langkah darurat."

Gadis itu, meski masih tampak ragu, mulai mereda sedikit. "Kalau begitu... kenapa kita ada di sini?" tanyanya, nadanya lebih pelan meski masih ketus.

Pria itu menghela napas. "Aku juga nggak tahu. Tapi namaku Lynx. Kamu siapa?"

Gadis itu terdiam sesaat sebelum menjawab. "Leena."

"Leena," ulang Lynx, mencoba mengingat namanya. "Kamu ingat apa yang terjadi sebelum ini?"

Leena mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Aku... aku ingat sedang dirumah. Lalu... gelap. Sisanya buram dan dingin."

Lynx mengangguk kecil. "Kita senasib. Sepertinya kita berdua terjebak di sini tanpa tahu apa yang terjadi. Kita harus cari tahu."

Leena hanya menatapnya sejenak, lalu mengangguk pelan. "Baik, tapi... ini tetap membingungkan."

Baru saja suasana mulai tenang, angin kencang bertiup tiba-tiba. Dalam sekejap, pakaian mereka yang sedang dijemur terlepas dari dahan pohon dan beterbangan jauh, menghilang dari pandangan.

"Oh, tidak..." Lynx menatap pakaian yang hilang dengan wajah penuh frustasi. "Ini bener-bener sial."

Leena membeku, matanya membulat tak percaya. Wajahnya seketika memerah. Ia menoleh ke Lynx dengan tatapan seperti kilat yang bisa membakar apa saja. "Ini semua salahmu!" teriaknya, suaranya bergetar antara kemarahan dan rasa malu yang membuncah. "Aku nggak percaya ini terjadi! Pertama, kita terdampar entah di mana, dan sekarang pakaian kita HILANG?! APA KAU BERCANDA?!"

Lynx hanya bisa berdiri kaku, mulutnya terbuka tanpa kata.

Leena terduduk di pasir, memeluk tubuhnya sambil menangis putus asa. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa semua hal buruk ini terjadi padaku?" isaknya. "Aku bahkan nggak tahu kenapa aku ada di sini. Aku takut... aku malu..."

Lynx, yang merasa bersalah, berjongkok di dekatnya. "Leena... aku tahu ini buruk, tapi kita akan mencari jalan keluar. Aku janji."

Leena hanya menangis lebih keras, sementara Lynx duduk diam, mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Lynx mengingat kembali kejadian beberapa saat yang lalu, saat dia menatap langit biru yang membentang di atasnya, tubuhnya terbaring di atas pasir yang dingin. Sentuhan lembut butiran pasir di kulitnya membuatnya terjaga sepenuhnya. Suara ombak yang terus berdebur, berpadu dengan angin lembut yang mengusap wajahnya, membingungkannya.

“Di mana aku?” gumamnya sambil perlahan duduk. Pandangannya menyapu pantai yang luas, dengan laut biru di satu sisi dan hutan lebat yang menjulang di kejauhan. Samar-samar, ingatan tentang kehidupannya di Kota Sarinda muncul, tapi semuanya terasa seperti potongan-potongan puzzle yang tak saling menyatu.

Saat matanya menjelajahi pantai, ia melihat sesuatu di kejauhan—seorang gadis terbaring di pasir, rambut panjangnya basah dan wajahnya pucat seperti kertas. Jantung Lynx berdegup lebih kencang. "Hei!" serunya sambil bangkit dan berlari mendekat.

Lynx berlutut di samping gadis itu, menatap wajahnya yang tenang namun pucat. "Hei, kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil menggoyangkan bahunya dengan lembut. Tapi gadis itu tetap diam, tubuhnya menggigil halus.

Merasa cemas, Lynx memutuskan untuk menggendongnya ke tempat yang lebih aman di bawah pepohonan di pinggir pantai. Ia meletakkannya di atas dedaunan kering yang ia susun seadanya. "Siapa kamu?" gumamnya, memandangi gadis itu dengan penuh tanda tanya. "Dan kenapa kita ada di sini?"

Ia mencoba membangunkan gadis itu lagi, menepuk pipinya dengan lembut. "Ayo, bangun. Jangan bikin aku tambah bingung," desaknya. Tapi tubuh gadis itu tetap lemas, tak ada respons.

Lynx menghela napas panjang. Ia menatap pakaiannya sendiri yang basah kuyup, begitu pula pakaian gadis itu. “Kalau dibiarkan begini, kami bisa sakit,” pikirnya.

Ia berdiri, memandang sekeliling, lalu kembali berjongkok di dekat gadis itu. "Bangun, hei, bangun," katanya lagi, suaranya mulai sedikit panik. Tapi tetap tak ada jawaban. Untuk menenangkan dirinya, Lynx menggumamkan sesuatu yang konyol. "Kalau nggak bangun, aku cium lho bibirnya," ujarnya dengan nada bercanda, meskipun hatinya gelisah.

Ia mendekatkan wajahnya untuk memeriksa pernapasan gadis itu. Hembusan napasnya pelan, tapi masih ada. Lynx merasa sedikit lega, meskipun situasinya tetap membuatnya bingung.

Namun, saat ia mencoba menegakkan tubuhnya, tangannya yang basah tergelincir di atas dedaunan. Ia kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terjatuh ke depan. Sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, bibirnya menyentuh bibir gadis itu.

Mata Lynx langsung membelalak. Ia melompat mundur seketika, wajahnya memerah seperti tomat matang. "Astaga! Maaf! Aku nggak sengaja! Sumpah aku nggak sengaja!" teriaknya panik sambil mengangkat kedua tangannya.

Tapi gadis itu tetap tidak bereaksi, hanya tubuhnya yang sedikit bergerak karena angin. Lynx duduk terpaku, wajahnya penuh rasa bersalah sekaligus kebingungan. "Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" bisiknya pada dirinya sendiri.

Melihat tidak ada respon dari si gadis, Lynx memperhatikan kembali kondisi gadis tersebut. Melihat wajahnya yang imut, cantik dengan kedua bukit kembar terlihat menonjol besar dibalik pakaian basahnya, Lynx merasa bagian bawah tubuhnya terbangun dengan keras. "Jadi bangun dech melihat gadis cantik ini," rutuk Lynx.

Pandangannya kemudian beralih ke bagian bawah si gadis, tampak celana si gadis yang basah membuat bentuk khas di antara kedua pahanya. Dia merasa bingung dan terjebak dalam dilema. “Apa yang harus kulakukan? Jika aku membiarkannya dalam keadaan ini, dia bisa jatuh sakit lebih parah. Tapi… melepaskan pakaian gadis ini, apakah itu benar?” pikirnya, memikirkan batasan dan rasa malu yang melingkupi dirinya.

Ia mengambil napas panjang, dengan canggung, Lynx mulai melepaskan pakaian gadis itu satu per satu untuk dijemur di dahan terdekat. "Maaf ya, ini untuk kebaikanmu," gumamnya pelan. "Aku cuma mau jemur, biar kita nggak sakit." Lynx mulai melepas pakaian gadis itu. Jantungnya berdebar kencang setelah selesai melepas semua pakaiannya. Ini pertama kalinya Lynx melihat tubuh seorang gadis tanpa busana.

Melihat tubuh mulus seorang gadis tanpa sehelai pakaian pun yang menutupi tubuhnya membuat Lynx sangat berdebar. "Ternyata seperti ini, bentuk gunung kembarnya sangat indah, apalagi lembahnya… bulunya sangat menggoda," batin Lynx melihat bagian intim si gadis dengan rambut yang lebat pendek.

Tidak dapat mengendalikan dirinya, Lynx mendekatkan bibirnya ke salah satu bukit si gadis dan mulai menciumnya, sesekali diremas bukit kiri dan kanan bergantian. Lynx melanjutkan, tangannya bermain mengelus bagian intim si gadis sambil menikmati bagian ujung bukit yang sedang dihisapnya. Tidak lama setelah itu, Lynx melanjutkan mencium bibir si gadis sambil meremas-remas bukit kembar si gadis. "Sadar Lynx, sadar..." Mendadak sebuah suara terngiang di pikirannya, membuatnya tersadar untuk tidak melanjutkan. Setelah menyesali perbuatannya, Lynx segera meminta maaf, "Maaf! Aku tidak bisa mengendalikan nafsuku."

Menyadari tidak ada respon, setelah cukup lama memperhatikan tubuh gadis itu, Lynx membawa pakaian mereka untuk dijemur. Dia mengatur pakaian di dahan dengan hati-hati, berusaha menjaga agar tidak ada yang jatuh ke tanah. Setelah selesai, ia menoleh kembali ke gadis itu, yang masih terbaring dalam keadaan lemah. Lynx merasakan ketidakpastian di dalam dirinya. "Kenapa kamu tidak juga bangun?" tanyanya dalam hati.

***

Dengan perasaan terjepit antara simpati dan canggung, Lynx menggaruk kepalanya yang tak gatal. Situasi ini jelas di luar zona nyamannya. Ia bisa menghadapi hewan buas atau rintangan berat, tapi menghadapi tangisan gadis yang kesal? Itu adalah ujian tersulit baginya.

Namun, ia tahu ia harus melakukan sesuatu. Menenangkan Leena menjadi prioritas utamanya sekarang.

"Hei... hei, Leena," kata Lynx, mendekat dengan hati-hati. "Jangan nangis, dong. Aku tahu ini parah, tapi kita bisa hadapi ini bersama. Aku janji, aku bakal jagain kamu. Aku nggak akan biarin kamu sendirian di sini."

Leena tidak menggubris, tetap terisak keras. "Aku nggak peduli! Pakaian kita hilang! Bagaimana kita bisa bertahan tanpa pakaian?" Tangannya memukul-mukul pasir, melampiaskan frustrasinya.

Lynx merasa panik. Situasi ini bisa bertambah buruk jika Leena tidak tenang. "Oke, oke, coba kita pikirkan bareng-bareng, Leena," ujarnya cepat. "Kita nggak bisa terpuruk terus. Kita pasti bisa menemukan cara untuk bertahan!"

Leena mengangkat wajahnya perlahan. Matanya masih basah, tapi ia mulai memperhatikan Lynx. "Solusi? Apa solusinya?" tanyanya dengan nada ragu.

Lynx tersenyum kecil, mencoba menenangkan suasana. "Kita bisa menjelajahi pulau ini. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menutupi tubuh kita," katanya, berusaha terdengar optimis. "Kita bisa pakai daun, ranting... apa pun yang ada. Pakaian sementara, setidaknya."

Leena menatapnya dengan alis terangkat. "Pakaian dari daun? Serius? Seperti di film-film konyol itu?"

"Kenapa tidak? Daripada seperti saat ini." Jawab Lynx.

"Benar juga idenya, daripada seperti ini." Batin Leena sambil menganggukkan kepalanya.

Setelah suasana sedikit mereda, Lynx dan Leena memutuskan untuk mulai menjelajahi pesisir pantai bersama. Pasir lembut menyentuh kaki mereka, dan suara deburan ombak yang berirama membawa sedikit ketenangan, meskipun rasa canggung masih meliputi keduanya.

Lynx berjalan di depan, sesekali melirik ke belakang. Matanya tanpa sadar menangkap cara berjalan Leena yang aneh—tubuhnya membungkuk sedikit, kedua tangan memeluk tubuhnya erat-erat untuk menutupi bagian-bagian yang menurutnya penting. Wajah Lynx nyaris tersenyum, tapi dia buru-buru menahan diri. "Kalau aku ketawa sekarang, dia bakal melempar batu ke wajahku," pikirnya.

"Leena, rasanya aneh, ya, berjalan seperti ini? Maksudku... ditempat ini cuma ada kita berdua. Dan, maaf, bukankah aku sudah, eh... melihat semuanya? Jadi, nggak perlu malu lagi. Aku nggak akan berbuat jahat kepadamu, serius."

"KAMUUU..." gumam Leena dengan nada penuh kemarahan bercampur malu. Wajahnya memerah seketika, seperti udang yang baru direbus.

Namun, ditengah rasa kesalnya, ia menyadari sesuatu—Lynx benar. Kalau Lynx berniat jahat, dia bisa saja melakukannya saat ia pingsan.

Leena mendengus, mencoba menutupi rasa malunya. "Awas kamu, ya, kalau macam-macam. Sekali saja kamu coba, aku nggak segan-segan bikin kamu menyesal!" ancamnya dengan nada tajam sambil menurunkan kedua tangannya perlahan, membiarkan tubuhnya lebih rileks. Dengan langkah yang lebih tenang, ia berjalan di samping Lynx, meskipun wajahnya tetap sedikit merah.

"Kalau aku terlihat aneh, itu salahmu," gumamnya pelan sambil melirik Lynx, yang hanya tertawa kecil sambil mengangguk.

“Jadi, Leena,” kata Lynx, mencoba mengalihkan perhatian dari situasi canggung. “Kamu berasal dari mana?”

Leena menjawab dengan hati-hati, “Aku dari Umbusari. Kamu?”

“Sarinda,” jawab Lynx. “Aku lagi di rumah, bersantai, dan tiba-tiba terbangun di pantai ini. Rasanya aneh, ya?”

“Ya,” jawab Leena sambil mengerutkan kening. “Aku juga merasakannya. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa ada di sini. Rasanya aku sedang menjemur pakaian saat itu.”

Mereka terus berjalan, berharap menemukan sesuatu yang berguna. Lynx mencuri pandang ke arah Leena sesekali, merasa penasaran dengan gadis ini. Namun, Leena menyadari tatapannya dan langsung menatap balik dengan tajam.

“Apa yang kamu lihat?” tanya Leena, suaranya penuh dengan ketegasan.

“Oh, maaf!” Lynx buru-buru memalingkan wajahnya. “Aku cuma... penasaran. Kamu terlihat berbeda.”

“Berbeda? Maksudmu apa?” Leena bertanya dengan nada defensif.

“Tidak, maksudku... kamu terlihat cantik,” kata Lynx, berusaha menjelaskan, tapi justru membuat situasi lebih canggung.

Leena memutar mata dengan kesal. “Berhenti melihatku seperti itu, Lynx. Aku nggak nyaman!”

“Maaf, aku nggak bermaksud begitu,” jawab Lynx dengan nada bersalah. “Aku janji nggak bakal ngelakuin lagi.”

Keheningan mengikuti percakapan mereka sampai langit di atas mereka mulai berubah gelap. Awan hitam menggulung, dan angin dingin mulai bertiup.

“Eh, lihat itu,” kata Lynx sambil menunjuk ke langit. “Sepertinya akan turun hujan.”

Leena menatap langit dengan cemas. “Kita harus menemukan tempat berlindung. Aku nggak mau terjebak di luar saat hujan deras.”

Mereka mempercepat langkah, mencari gua atau tempat perlindungan di sepanjang pantai. Tapi, suasana yang sunyi membuat mereka merasa semakin terisolasi.

“Lynx, tolong fokus pada pencarian,” ujar Leena dengan nada sedikit tajam saat menyadari Lynx kembali mencuri pandang ke arahnya.

“Baik, baik!” balas Lynx cepat. “Aku janji akan fokus. Kita butuh tempat berlindung sebelum badai datang.”

Leena menghela napas, mencoba mengabaikan rasa kesalnya. “Bagus. Mari kita cari sesuatu sebelum kita terjebak di sini.”

Keduanya melanjutkan perjalanan, menantang cuaca buruk yang semakin mendekat.

***

Beberapa jam sebelumnya, dibawah sinar purnama yang terang namun terasa dingin, sebuah pulau misterius berdiri terpencil, terputus dari dimensi lainnya. Di tengah pulau itu, sebuah altar batu kuno menjulang, dihiasi ukiran simbol-simbol magis yang tampak hidup di bawah sinar bulan. Kabut mistis melingkari altar, berputar perlahan.

Sekelompok orang berpakaian ritual berdiri dalam keheningan. Kulit mereka dilumuri cat hitam dan merah, tubuh mereka bergetar karena kegembiraan bercampur ketegangan. Para tetua yang wajahnya dilipat usia berdiri mengelilingi altar, mata terfokus pada pemimpin spiritual yang berdiri didepan sebuah formasi sihir.

"Akhirnya," gumam salah satu tetua. "Setelah lima puluh tahun, kita dapat menggunakan formasi ini lagi. Kita akan memanggil orang-orang dengan darah khusus untuk membangkitkan leluhur kita dan mendapat kekuatan guna menguasai seluruh dimensi."

Seratus korban berlutut di sekeliling altar, diikat dengan rotan berduri. Mantra mulai diucapkan, angin kencang membawa bau darah. Korban demi korban disembelih, darahnya mengalir memenuhi cekungan di dasar altar. Cahaya merah memancar dari altar.

Namun, sebelum ritual selesai, serangan musuh dari suku lain tiba-tiba datang untuk menyelamatkan para korban. Terjadi pertumpahan darah saat para penyerang menyerbu altar. Pemimpin spiritual memanggil makhluk mutasi peliharaan mereka. Makhluk itu membunuh semua musuh yang menyerang. Namun ritual menjadi tidak sempurna, kelompok pemanggil harus menunggu lima puluh tahun lagi untuk dapat menggunakan formasi kembali.

